Selasa, 28 April 2015

Tidur pada sore hari meningkatkan resiko kematian

Bagi sebagian besar orang tidur sore hari merupakan kegiatan yang tidak boleh dilewatkan. Karena menurut mereka, tidur sore hari dapat mengembalikan energi yang telah terbuang sewaktu berkegiatan di pagi dan siang hari. Tubuh akan kembali segar dan bugar setelah melakukan tidur sore hari. Namun, setelah diteliti tidur sore hari ternyata mempunyai efek yang berbeda dibandingkan tidur pada waktu siang hari. Tidur sore hari tingkatkan resiko kematian, benarkah? Pernahkah Anda mendengar pertanyaan seperti ini? Ya, memang pernah ada peneliti yang mengatakan bahwa tidur sore hari dapat meningkatkan resiko kematian lebih tinggi. Penemuan dari peneliti tersebut adalah bahwa tidur satu jam lebih siang sampai sore hari dimulai dari pukul 1 siang hingga sampai pukul 6 petang ternyata efeknya sangat buruk sekali yaitu lebih mengarah pada angka resiko kematian hingga 30 persen. Peningkatan angka kematian tersebut diketahui ada kaitannya dengan penyakit paru-paru salah satu contohnya seperti bronchitis, empyshema dan pneumonia.
Para peneliti tersebut juga mengungkapkan bahwa tidur lebih awal tersebut mampu memicu peradangan di dalam tubuh. Walaupun begitu, para peneliti tersebut juga menunjukkan bagi orang yang sering tidur siang hingga sore hari tersebut pertanda bahwa orang tersebut terjangkit masalah pada paru-parunya.
Peneliti mendapatkan hasil tersebut setelah melakukan penelitian kepada 16.000 warga Inggris selama 13 tahun. Dan hasilnya ialah orang yang suka tidur awal dari siang hingga sore hari mempunyai peningkatan resiko kematian sampai 14 persen. Parahnya jika mereka tidur hanya satu jam lebih di sore hari maka resiko tersebut akan naik hingga 32 persen.
Sebelumnya para peneliti tersebut juga melakukan penelitian di China dengan orang yang suka tidur di waktu sore hari. Setelah makan siang kurang lebih 30 menit dan orang tersebut sangat kemungkinan  sekali terserang diabetes tipe 2. Namun, para peneliti tersebut juga belum yakin apa benar bahwa diabetes tersebut yang menyebabkan kebiasan seperti itu atau malah sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar